Arsip

Archive for the ‘Akidah dan Tauhid’ Category

Bertawassul kepada Para nabi dan orang shalih

Agustus 1, 2010 1 komentar

Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala Shalawat dan salam somoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam yang tidak ada nabi setelahnya.

Sebagai dampak langsung dari jauhnya kebanyakan kaum muslimin dari Tuhan serta jahilnya mereka akan agama, tersebarlah berbagai bentuk kemusyrikan, bid’ah dan khufarat di kalangan umat. Di antara bentuk kemusyrikan yang tersebar luas, ialah sikap yang berlebihan sebagian kaum muslimin dalam mengagungkan orang-orang yang mereka anggap wali dan shaleh, sehingga mereka menyeru (berdo’a kepada) mereka di samping (menyeru) Allah subhanahu wata’ala. Mereka berkeyakinan, bahkan sesungguhnya wali-wali dan orang-orang shaleh itu dapat memberi manfa’at dan menimbulkan mudharat, sehingga mereka mengagungkan dan melakukan thawaf (berkeliling) di kuburan-kuburan mereka, dengan anggapan bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah merupakan tawassul (mengambil perantara) kepada Allah subhanahu wata’ala untuk menunaikan bermacam hajat, atau untuk menolak berbagai malapetaka. Baca selanjutnya…

Iklan

Aqidah Ahlussunnah Mengenai Di Mana Allah?


Pada edisi kali ini, kami angkat sebuah topik permasalahan yang klasik dan kontemporer, yaitu mengenal Dimana Allah? Karena di sana banyak kita dapati di antara masyarakat yang menyimpang dalam aqidah (keyakinan) yang agung, prinsip Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan para shahabat –Ridhwanullah ‘alaihim ‘ajmain-, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kita mendapati di antara kaum muslimin di zaman ini, bermacam-macam keyakinannya atas pertanyaan “Dimana Allah?”. Di antaranya ada yang berkeyakinan bahwa Allah –Subhanahu wa Ta’ala– berada di hati, bahwa Allah itu berada dimana-mana, bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher, bahwa Allah -Subhanahu wa Ta’ala- bersatu dengan hamba-Nya. Lebih parah lagi, ada juga yang berkeyakinan bahwa Allah itu tidak di kanan, tidak di kiri, tidak diatas, tidak di bawah, tidak di depan, dan tidak pula di belakang. Sungguh ini adalah pernyataan yang sangat lucu. Lantas dimana Allah?!. Padahal kalau kita mau mengikuti fitrah kita yang suci, sebagaimana fitrahnya anak yang masih kecil, pemikiran mereka yang masih polos, seperti putihnya kertas yang belum ternodai dengan tinta. Kita akan dapati jawaban dari lisan-lisan kecil mereka, jikalau mereka ditanya, “Dimana Allah?” Mereka akan menjawab, “Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit”. Baca selanjutnya…

[Ketahuilah!] Bahwa Syahadat Bukan Sekedar Ucapan


Dua kalimat syahadat adalah pintu gerbang memasuki agama Islam. Siapapun yang ingin memasuki agama ini harus ter­lebih dahulu meng ik rarkan, memahami isi dan meng er jakan kon sekwen sinya. Tanpa memahami makna dan kon sekwen­sinya maka ucapan yang di ikrarkan seseorang akan men jadi  per kataan yang tidak bermakna.

Dua kalimat syahadat bukanlah sekedar ucapan. Sebab kalaulah sekedar ucapan, maka tidak ada pem beda antara seorang munafik dan orang ber iman. akan setara kedudukan  Abdullah bin Ubay seorang pemim pin kaum munafikin, dengan Rasulullah Sholallahu alaihi wa sallam  pemim pin kaum muk minin, karena keduanya meng ucapkan ikrar yang sama.

Baca selanjutnya…

Kategori:Akidah dan Tauhid Tag:

Di manakah Allah ?, Keyakinan yang Benar Mengenai Sifat Allah


di mana Allah

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Saat ini, alhamdulillah dakwah semakin tersebar luas di dunia maya. Website dakwah pun semakin menjamur. Ini adalah sesuatu yang patut disyukuri. Di samping itu dakwah kepada kepahaman menyimpang pun juga semakin tersebar. Yang terakhir ini pun sangat menyedihkan. Orang awam yang asal fitrohnya bersih akhirnya ternodai dengan berbagai macam kotoran syubhat (pemikiran sesat) yang membutakan hati. Di antaranya adalah beberapa syubhat yang dibawakan oleh para blogger anti salafi, yang menamakan blognya dengan sebutan abusalafy. Syubhat yang ada dan cukup keras adalah mengenai pernyataan mereka bahwa Allah itu ada tanpa tempat. Ini adalah penentangan mereka terhadap aqidah Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa Allah berada di atas langit dan Allah berada tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Semoga dengan pertolongan dan taufik Allah Ta’ala, kami bisa menyingkap kebenaran yang ada. Ya Robbi, a’in ‘ala naili ridhoka (Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk menggapai ridho-Mu).

Baca selanjutnya…

Al-Ilhad (Penyimpangan) Dalam Memahami Nama-nama dan Sifat-sifat Allah Ta’ala


Prolog

Pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala memiliki kedudukan yang agung dan tinggi dalam Islam, bahkan merupakan salah satu tonggak utama dan landasan iman kepada Allah Ta’ala. Dan seorang hamba tidak mungkin dapat menunaikan ibadah yang sempurna kepada Allah Azza wa jalla sampai dia benar-benar memahami pembahasan ini dengan baik[1].

Oleh karena itu, penyimpangan dalam memahami masalah ini akibatnya sangatlah fatal, karena kerusakan pada landasan iman ini akan mengakibatkan rusaknya semua bangunan agama seorang hamba yang didirikan di atasnya.

Baca selanjutnya…

Salah Paham dengan Ayat “Kami Lebih Dekat dari Urat Leher”


di_mana_Allah

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Dalam sebuah posting masalah aqidah, kami pernah mengangkat pembahasan cukup krusial yaitu mengenai keberadaan Rabb kita. Keberadaan Allah adalah di atas langit dan Dzat Allah bukan di mana-mana. Itulah kesimpulan yang dapat ditarik. Namun sebagian orang kemudian mengangkat suara tanda kurang setuju. Mereka pun mengemukakan ayat dalam surat Qaaf berikut.

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qoof: 16). Kata mereka, dari sini kita harus katakan bahwa Allah itu dekat, bukan jauh di langit sana. Itulah argumen mereka

Semoga tulisan berikut bisa menjawab kerancuan di atas. Hanya Allah yang memberi taufik dan kemudahan.

Baca selanjutnya…

Ar-Rabb, Maha Mengatur dan Menguasai Alam Semesta


Dasar penetapan

Nama Allah Ta’ala yang maha indah ini disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya dalam firman Allah Ta’ala,

{قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam” (QS al-An’aam:162).

Dan dalam firman-Nya,

{قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ}

Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu?” (QS al-An’aam:164).

Baca selanjutnya…