Beranda > Islam, Manhaj > Dapatkah Aliran-Aliran Islam Bersatu?

Dapatkah Aliran-Aliran Islam Bersatu?


Pembaca mulia, barangkali pembaca sekalian akan merasakan apa yang penulis rasakan, yaitu sedih melihat kaum muslimin sekarang ini terpecah-belah dalam berbagai kelompok dan golongan. Ada yang menempuh jalur politik, yang dari situ, terpecahlah menjadi berbagai partai belabel Islam dengan ciri khasnya masing-masing. Di sisi lain, ada yang menempuh jalur pemikiran liberal. Ada yang menempuh jalur kulturalisasi dengan tradisi leluhur secara mentah-mentah. Ada yang menempuh jalur penegakan khilafah Islamiyyah. Ada pula yang melalui jalur terorisme dan pengebomam, sebagaimana yang baru marak akhir-akhir ini. Barangkali, di antara pembaca ada yang bertanya, “Mana di antara kelompok-kelompok Islam itu yang benar? Mengapa mereka berjalan dengan cara-caranya sendiri. Mengapa langkah mereka tidak sama, padahal mereka sama-sama Islam? Mengapa sesama Islam tidak bersatu? Mungkinkah umat Islam akan bersatu?”

Sebagai bahan perenungan dari pertanyaan-pertanyaan di atas, perhatikanlah terlebih dahulu firman Allah ta’ala berikut ini.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah. Ingatlah nikmat yang Allah curahkan kepada kalian ketika kalian dulu bermusuhan, lalu Allah lembutkan hati-hati kalian. Kemudian, dengan nikmatNya  kalian menjadi bersaudara. (Ingatlah pula) dulu kalian di tepi jurang neraka, lalu Allah selamatkan kalian. Demikianlah, Allah jelaskan ayat-ayatNya kepada kalian, mudah-mudahan kalian mendapat petunjuk.”

(Q.S. Ali Imron: 103)

Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

  • Ayat ini turun berkenaan dengan kasus yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj[1]. Kedua suku ini semasa jahiliyyah sering berperang dan saling bermusuhan dengan permusuhan yang keras. Permusuhan ini telah berlangsung selama 120 tahun[2]. Kemudian, setelah Islam yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada mereka, mereka bersatu. Mereka menjadi saudara karena Islamlah yang mempersatukan mereka, bukan persatuan di atas fanatisme suku. Melihat kaum muslimin bersatu dan merasa menjadi saudara satu sama lain, kaum yahudi merasa benci dan sesak hati. Mereka berusaha merusak persaudaraan ini dan mencerai beraikan kaum muslimin, dengan menumbuhkan dan mengungkit-ungkit permusuhan yang pernah terjadi di antara mereka di masa jahiliyyah.

Ibnu Katsir, dalam kitab tafsir beliau[3], menyebutkan riwayat bahwa Muhammad bin Yasar dan ulama lainnya menyebutkan bahwa,

“Ayat ini turun berkaitan dengan keadaan suku Aus dan Khazraj. Ketika itu, ada seorang laki-laki yahudi berjalan melewati sekumpulan orang dari suku Auz dan Khazraj. Laki-laki yahudi tersebut merasa tidak senang dengan keeraatan dan kekompakan mereka. Kemudian, ia mengirimkan seseorang dan memerintahkannya untuk duduk bersama mereka, serta mengingatkan kembali berbagai peperangan yang pernah terjadi di antara mereka pada peristiwa Bu’ats dan peperangan-peperangan lainnya. Orang itu tidak henti-hentinya melakukan hal tersebut sehingga emosi mereka bangkit dan sebagian mereka murka atas sebagian lainnya. Masing-masing mengobarkan emosinya, meneriakkan slogan-slogan, mengangkat senjata mereka dan saling mengancam untuk ke tanah lapang. Ketika hal itu terdengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau datang dan menenangkan mereka seraya berseru

Apakah kalian menanti seruan jahiliyyah padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian”?

Beliau pun membacakan ayat di atas, maka mereka pun menyesali apa yang mereka lakukan. Dan akhirnya, mereka saling bersalaman, berpelukan, dan meletakkan senjata. Mudah-mudahan Allah meridhoi mereka semuanya.

Faidah Umum Yang Bisa Dipetik

Pembaca mulia, ayat yang Allah sebutkan di atas tidak hanya memberikan faidah bagi suku Aus dan Khazraj saja, tetapi juga bagi kita. Di antara faidah-faidah tersebut antara lain:

  1. Perintah Untuk Berpegang teguh kepada حبل الله /hablullah/ “tali Allah”.
  2. Larangan untuk saling bercerai berai
  3. Para shahabat nabi di masa jahiliyyah saling berselisih, berpecah-belah, dn bermusuh-musuhan satu sama lain.
  4. Kemudian, Islam datang dan menyatukan hati para shahabat Nabi sehingga menjadi bersaudara.
  5. Persaudaraan manusia hanya akan terwujud bila manusia berpegang teguh kepada tali Allah.
  6. Persatuan dan persaudaraan setelah adanya perpecahan dan permusuhan adalah nikmat dari Allah.
  7. Adanya perintah untuk mengingat-ingat nikmat Allah. Dan salah satu nikmat tersebut adalah persatuan dan persaudaraan.
  8. Orang-orang kafir senantiasa timbul rasa benci bila melihat persatuan dan persaudaraan kaum muslimin.
  9. Oleh karena itu, orang-orang kafir senantiasa berusaha dengan segala cara memunculkan api fitnah di tengah-tengah kaum muslimin agar mereka berselisih dan berpecah-belah.

Penjelasan Lebih Lanjut

  • Pembaca mulia, jika kita membaca ayat yang mulia di atas, niscaya kita akan mengetahui bahwa persatuan adalah hal yang diperintahkan Allah ta’ala. Sebaliknya, permusuhan dan perselisihan adalah hal yang Allah larang. Ini karena permusuhan dan perselisihan adalah penyebab utama kekalahan dan kehancuran kaum muslimin. Kemudian, ketahuilah bahwa permusuhan yang paling besar bahayanya adalah permusuhan dalam masalah agama. Perhatikanlah, Allah menyertakan kedua sebab akibat (perselisihan-kehancuran) dalam satu ayat karena pada umumnya persilangan pendapat itu muncul karena kelalaian dalam menaati Allah dan rasulNya. Allah ta’ala berfirman

وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم

Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu gentar dan hilang kekuatanmu

(Q.S. Al-Anfal: 46)

  • Dalam ayat di atas, secara gamblang Allah jelaskan bahwa saling berbantah-bantahan adalah sumber timbulnya kegentaran kaum muslimin dan hilangnya kekuatan mereka, yang hal ini tentunya merupakan sebab kelemahan kaum muslimin. Bagaimana mungkin negeri kaum muslimin akan dipandang hebat oleh negara-negara kafir jika kekuatan kaum muslimin hilang? Maka, jalan untuk mengembalikan kekuatan kaum muslimin adalah dengan meninggalkan sikap saling bermusuhan, menjauhi bantah-bantahan, dan berusaha untuk bersatu.

Dengan Apa Kita Bersatu?

  • Siapa kaum muslimin di hari ini yang tidak menginginkan persatuan? Pembaca mulia pun tentunya mengharapkan kaum muslimin di seluruh dunia, atau katakanlah kaum muslimin yang di negara Indonesia, untuk bersatu. Kita semua tentu ingin segala kelompok, entah NU, Muhammadiyyah, Persis, dan semua kelompok Islam lainnya bersatu. Mungkinkah mereka, kita semua, bersatu?
  • Jawabannya, persatuan Islam bukanlah hal yang utopia (khayalan indah semata). Persatuan adalah hal yang sangat mungkin, karena Pencipta kita sendiri yang memerintahkan kita untuk bersatu. Hal ini bisa diketahui dari firman-Nya

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا واذكروا نعمة الله عليكم إذ كنتم أعداء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها كذلك يبين الله لكم آياته لعلكم تهتدون

Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah. Ingatlah nikmat yang Allah curahkan kepada kalian ketika kalian dulu bermusuhan, lalu Allah lembutkan hati-hati kalian. Kemudian, dengan nikmatNya  kalian menjadi bersaudara. (Ingatlah pula) dulu kalian di tepi jurang neraka, lalu Allah selamatkan kalian. Demikianlah, Allah jelaskan ayat-ayatNya kepada kalian, mudah-mudahan kalian mendapat petunjuk.”

(Q.S. Ali Imron: 103)

  • Dalam ayat di atas, Allah melarang kita untuk bercerai berai. Namun, sebelumnya, Allah memerintah kita untuk berpegang teguh dengan tali Allah terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena hanya Allah-lah, yang mampu mempersatukan kita. Allahlah yang menciptakan kita dan Dialah yang maha mengetahui kondisi manusia. Oleh karena itu, jalan menuju persatuan hanya bisa terwujud dengan mengikuti bimbingan Pencipta kita. Barangsiapa yang tidak mau mengikuti bimbingan, arahan, dan keterangan dari penciptaNya, niscaya Sang Pencipta justru menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka. Sang pencipta telah menyebutkan hal ini dengan jelas, dalam firman-Nya

وألقينا بينهم العداوة والبغضاء إلى يوم القيامة

Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat

(Q.S. Maidah: 64)

Apa yang Dimaksud dengan Tali Allah?

Kita semua tentu sepakat bahwa jika kita ingin umat Islam Jaya dan Terhormat di hadapan orang-orang kafir, kita harus bersatu. Namun, ingatlah bahwa kita semua tidak akan mungkin bisa bersatu selama kita belum kembali kepada tali Allah dengan sesungguhnya. Lalu, apakah tali Allah itu?

Pembaca mulia, Al-Qur’an turun di masa di Nabi ketika beliau hidup di tengah-tengah para shahabatnya yang mulia. Dan Al-Qur’an ini, turun kepada mereka, para shabahat. Oleh karena itu, para shahabatlah yang paling mengerti makna Al-Qur’an, karena merekalah yang mendengar langsung bimbingan Nabi ­shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu shahabat Nabi, yaitu Abu Sa’id Al-Khudri[4], menyampaikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض

“Kitab Allah (Al-Qur’an) adalah tali Allah yang diturunkan dari langit ke bumi[5]

  • Shahabat Nabi yang lain, Abdullah bin Mas’ud, menjelaskannya dengan الجماعةAl-Jama’ah[6]. Dalam riwayat lain, dari Asy-Sya’bi, dari Abdullah, bahwa dalam menjelaskan firman Allah di atas, beliau berkata حبل الله الجماعة, yang artinya Tali Allah adalah Al-Jama’ah”. Para ulama setelah masa shahabat, seperti As-Sudi, Ad-Dhahak, dan Abdullah juga menerangkan bahwa yang dimaksud tali Allah adalah Al-Qur’an. Mujahid, dan Atho’ menafsirkannya dengan janji Allah. Qotadah menafsirkankannya dengan عهد الله وأمره, artinya “Janji Allah dan perintah-Nya”.

(Periksa kembali keterangan para ulama di atas, dalam kitab tafsir karya Muhammad bin Jarir)[7]

  • Dalam tafsir Jalalain, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan tali Allah adalah Dien [ agama (Islam) ][8].

Konsekuensi Berpegang Teguh kepada Al-Qur’an adalah Berpegang Teguh Kepada Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Sebagian orang ada yang bersikukuh bahwa umat Islam harus berpegang teguh kepada Al-Qur’an saja, tidak perlu mengikuti sunnah Rasulullah. Ini adalah anggapan yang keliru, karena perintah untuk mengikuti Rasulullah, adalah perintah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, barangsiapa mengaku berpegang teguh kepada Al-Qur’an, konsekuensinya dia harus mengikuti ajaran dan tuntunan Rasulullah. Perhatikanlah ayat Al-Qur’an berikut ini

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

“…Apa yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah! Apa yang ia larang untuk kalian, tinggalkanlah!…”

(Q.S. Al-Hasyr: 7)

Dalam surat yang lain, Allah ta’ala berfirman

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا

Barangsiapa menentang rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan ia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia leluasa terhadap kesesatan yang dikuasainya itu , dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannman itu seburuk-buruk tempat kembali.

(Q.S. An-Nisa: 115)

Konsekuensi Berpegang Teguh kepada Sunnah Nabi adalah Mengikuti Bimbingan Para Shahabat Nabi dan Ulama Salafusshalih.

  • Pembaca mulia, kita semua, bahkan seluruh kaum muslimin sepakat bahwa sumber hukum Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, kita masih dapati banyaknya perpecahan di tubuh kaum muslimin. Mengapa mereka tidak bisa bersatu, padahal semuanya mengaku berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah? Jawabannya: perpecahan di tubuh kaum muslimin muncul karena sebagian dari mereka tidak memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar. Lalu, bagaimana cara memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan benar? Caranya adalah dengan mengikuti pemahaman para shahabat Nabi dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  • Para shahabat adalah orang-orang yang menemani sekaligus yang membela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah manusia yang paling paham terhadap ajaran Islam daripada manusia selain mereka. Mereka selalu bertanya kepada Nabi tentang apa yang sulit diketahui dalam masalah agama. Dengan demikian, patut diketahui bahwa semua masalah, baik aqidah, akhlak, ibadah, ahkam, dan masalah syariat lainnya sudah ditanyakan, dipahami, dan diamalkan oleh para shahabat Nabi, Mereka adalah manusia yang dibimbing langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[9].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما من نبي بعثه الله في أمة قبلي إلا كان له من أمته حواري وأصحاب يأخذون بسننه ويقتدون بها ثم يخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون ويفعلون ما لا يؤمرون فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن وليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل

“Tidak ada nabi yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecuali ia memiliki hawariyyun (pengikut-pengikut setia) dan shahabat-shahabat yang senentiasa mengikuti sunnahnya dan menaati apa yang menjadi perintahnya. Kemudian, sesudah mereka akan muncul generasi (orang-orang) yang mengatakan apa-apa yang mereka tidak laksanakan dan mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka, barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, ia adalah seorang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, ia adalah seorang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya. Ia adalah seorang mukmin. Setelah itu, tidak ada lagi iman meskipun hanya sebesar biji sawi.

(H.R. Al-Baihaqi) [10]

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa jalan satu-satunya menuju persatuan umat Islam adalah dengan berprinsip menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai alat pemersatu, yang dalam memahami keduanya adalah dengan mengikuti pemahaman para shahabat Nabi, disertai bimbingan para ulama yang memegang teguh prinsip di atas.

Maka, siapapun dari umat Islam yang mencari alat pemersatu selain Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan bimbingan salaf, niscaya usaha pencariannya itu akan sia-sia. Itu sama saja dengan mengada-adakan sesuatu yang tidak dicontohkan dalam syariat, dan justru merupakan hal yang Nabi peringatkan kepada umatnya, sebagaimana dalam sabdanya,

فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

… Sesungguhnya, siapa saja yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang amat banyak. Maka dari itu, hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur-Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpeganglah kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Hati-hatilah kamu terhadap perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

(H.R. Abu Dawud)[11]

Bid’ah adalah Sumber Perpecahan

Pembaca mulia, setelah membaca hadits yang penulis kutip di atas, kita bisa mengetahui bahwa Nabi memberi peringatan kepada kita terhadap bid’ah. Bid’ah inilah yang menyebabkan kaum muslimin tercerai berai. Perlu kita ketahui bersama bahwa realita bahwa bid’ah merupakan sumber perpecahan telah terbukti dalam sejarah panjang kaum yahudi dan nasrani.

Kaum yahudi membuat bid’ah dengan mengubah perkataan Allah dan meninggalkan sebagian ajaran yang disyariatkan kepada mereka. Hal ini, disebutkan Allah dalam firmanNya

“…يحرفون الكلم عن مواضعه ونسوا حظا مما ذكروا به. …”

…mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya…

(Q.S. Al-Maidah: 13)

Adapun kaum nasrani membuat bid’ah dengan mengikuti ajaran kependetaan yang mereka ada-adakan dan meninggalkan ajaran agama yang telah diperintahkan kepada mereka. Dengan ini, Allah ta’ala tumbuhkan rasa permusuhan dan kebencian di antara mereka. Hal ini bisa pembaca ketahui dari firman Allah ta’ala,

” ومن الذين قالوا إنا نصارى أخذنا ميثاقهم فنسوا حظا مما ذكروا به فأغرينا بينهم العداوة والبغضاء إلى يوم القيام …”

Di antara orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang nasrani”, ada yang Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian apa yang yang mereka telah diperingatan dengannya. Maka, Kami timbulkan kebencian dan permusuhan di antara mereka…

(Q.S. Al-Maidah: 14)

Dalam menerangkan ayat di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Ini merupakan nash (dalil tegas) bahwa mereka telah meninggalkan sebagian yang telah diperintahan kepada mereka. Itulah yang menyebabkan timbulnya permusuhan dan kebencian yang diharamkan[12]”.

Perhatikanlah baik-baik wahai saudaraku sekalian yang menginginkan persatuan! Penulis tekankan sekali lagi, bid’ah adalah sumber perpecahan. Oleh karenanya, mendakwahkan tauhid dan sunnah yang murni dari bid’ah adalah kunci pokok menuju persatuan. Bukanlah hal yang tercela jika seseorang memberi peringatan kepada umat terhadap bahaya bid’ah. Renungkanlah apa yang dikatakan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut ini:

“Wajib diberi hukuman setiap orang yang menisbatkan diri kepada ahli bid’ah, membela mereka, memuji mereka, mempopulerkan buku-buku mereka, ketahuan membantu dan menolong mereka, membenci bantahan terhadap mereka, atau menoleransi kesalahan mereka, atau mengatakan perkataan ini tidak diketahui apa maksudnya. Atau mengatakan dia telah mengarang kitab ini. Dan sejumlah alasan yang tidak mungkin diucapkan kecuali oleh orang jahil atau munafik. Bahkan, wajib diberi hukuman juga tiap orang yang mengetahui kebid’ahan mereka namun tidak membantu penegakan bantahan terhadap mereka. Karena menegakkan bantahan terhadap ahli bid’ah merupakan salah satu kewajiban yang terbesar. Mereka telah merusak akal dan agama manusia dari berbagai kalangan, mulai dari para syaikh, alim ulama, raja, dan penguasa. Mereka telah menyebarkan kerusakan di atas muka bumi dan menghalangi manusia dari jalan Allah[13]

Sangat disayangkan, masih ada pula sebagian kaum muslimin yang enggan meninggalkan perbuatan bid’ah, dengan alasan ini adalah tradisi leluhur yang harus dijaga. Padahal, tidak sedikit tradisi leluhur justru bernuansa  kesyirikan, yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ketika sebagian da’i penyeru sunnah memberi nasehat kepada masyarakat terhadap bahaya bid’ah ini, sangat disayangkan, sebagian da’i yang lain justru mencegahnya dengan mengatakan,

Tegakah kalian arahkan anak panah kepada saudara-saudara kalian sendiri, di saat kaum sekuler dan komunis sangat gencar menebar perselisihan di antara kita?”

Maka, penulis sanggah pernyataan di atas dengan perkataan Ibnu Taimiyyah,

“…membersihkan jalan Allah, agama, manhaj, dan syari’at-Nya serta menolak kejahatan dan pelanggaran mereka, hukumnya fardhu kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin. Sekiranya tidak ada orang yang digerakkan oleh Allah untuk melaksanakan kewajiban tersebut, NISCAYA AGAMA INI AKAN RUSAK. Kerusakan agama ini tentu lebih parah daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh musuh yang menguasai negeri kaum muslimin. Musuh kafir itu tidak dapat merusak hati dan agama kecuali sekadar biasnya saja. Sementara, yang pertama kali dirusak ahli bid’ah adalah hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kamu, tetapi Allah hanya melihat hati dan amal kamu.[14]

Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Bukan Penghambat Persatuan

Setelah kita mengetahui bahwa perbuatan bid’ah adalah sumber perpecahan dalam tubuh kaum muslimin, kewajiban kita yang menyadari hal ini untuk mengingatkan manusia untuk senantiasa berpegang teguh kepada ajaran Nabi dan menjauhi ritual-ritual bid’ah, yang tidak pernah dilakuakan oleh Nabi dan para shahabatnya. Disinilah kita harus mengingat bahwa dalam Islam juga terdapat syari’at amar ma’ruf nahi mungkar. Inilah amal shalih yang paling utama, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Taimiyyah,

“والأمر بالسنة والنهي عن البدعة هو أمر بمعروف ونهي عن منكر وهو من أفضل الأعمال الصالحة”

Seruan kepada sunnah dan pencegahan dari perbuatan bid’ah termasuk amar ma’ruf nahi mungkar, dan merupakan amal shalih yang paling utama[15]

Maka, betapa sedih hati ini di kala kita berusaha menyeru kepada persatuan, dengan mendakwahkan dan menyebarkan sunnah, serta memberi peringatan kepada umat terhadap bid’ah dan bahayanya, di saat itu pula muncul kata-kata

Jangan memecah belah barisan kaum muslimin dari dalam…!

Jangan melempar debu dari luar…!

Jangan membangkitkan perselisihan di antara kaum muslimin…!

Kita menjalin kerja sama dalam masalah-masalah yang kita sepakati dan saling toleran terhadap masalah-masalah yang masih kita perselisihkan…!

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Maka, kita sampaikan:

Apakah mendakwahkan sunnah dan memberantas kebid’ahan akan membuat perpecahan kaum muslimin?

Apakah ketika kita melihat kaum muslimin muslimin melakukan ritual-ritual bid’ah dan kesyirikan seperti mempercayai kekuatan jimat, meminta doa kepada orang mati di kuburan, dan mencari berkah kotoran kerbau kyai Slamet, yang kesemuanya itu banyak dilakukan kaum muslimin di negara kita, apakah akan kita biarkan begitu saja?

Sungguh, dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, sangat memerhatikan urusan akidah, yang hal ini justru dianggap sebagai perkara remeh oleh kebanyakan da’i zaman sekarang. Imam Muslim bin Al-Hajjaj rahimahullah menyebutkan riwayat dari Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Aku memiliki beberapa ekor kambing yang digembalakan di antara gunung Uhud dan Jawaniyyah yang dijaga oleh seorang budak wanita milikku. Pada suatu hari, aku datang memeriksa kambing-kambingku, teryata seekor serigala telah membawa lari seekor kambingku. Sebagaimana lumrahnya manusia, aku pun marah dan lalu kutampar buidak wanitaku itu. Lalu, aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan mengadukan peristiwa tersebut. Beliau menganggap perbuatanku itu sangat keterlaluan. Maka, kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, tidakkah lebih baik jika kumerdekakan budak wanita itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Panggillah budak itu kemari!” Aku pun memanggil budak wanita itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Di mana Allah?”

  • Ia menjawab, “Di langit”.
  • Rasul bertanya lagi, “Siapakah aku?”
  • Ia menjawab, “Engkau adalah utusan Allah”.
  • Maka, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pun bersabda, “Merdekakanlah dia, karena dia adalah seorang wanita mukminah.”[16]

Itulah bimbingan yang dicontohkan Nabi. Bandingkan dengan ucapan sebagian da’i zaman sekarang yang justru mengatakan,

“Kalian masih sempat-sempatnya membicarakan di mana Allah padahal Amerika sudah mendaratkan manusia ke bulan!”

“Bukan sekarang waktunya untuk itu! Saat ini kaum kafir tengah mengintai kita!”

“Tidakkah Engkau lihat, orang-orang kafir bersatu untuk menghancurkan kita?”

Kita katakan,

“Lalu kapankah orang yang salah dapat mengetahui kesalahannya?”

“Dan kapankah ia dapat melepaskan diri dari kesalahannya?”

“Kalau begitu caranya, kapankah orang sakit bisa sembuh?”

“Dan kapankah orang lemah bisa kuat?”

Demikianlah, banyak kaum muslimin yang tertipu (mudah-mudahan Allah membimbing kita semua, kaum muslimin). Banyak di antara kita yang terpana dengan kehebatan, dan persatuan orang-orang kafir. Belumkah kita membaca peringatan dari Allah berikut ini?

بأسهم بينهم شديد تحسبهم جميعا وقلوبهم شتى

Permusuhan di antara mereka SANGATLAH HEBAT. Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah belah.”

(Q.S. Al-Hasyr: 14)

Renungkanlah ayat di atas! Allahlah yang berbicara, bukan saya (penulis). Allahlah yang menyampaikan bahwa permusuhan antara sesama orang-orang kafir demikian hebatnya, namun justru banyak di antara kita yang mengira persatuan merekalah yang hebat.

Persatuan Ala Salafi Vs Persatuan Ala Hizbi

  • Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa persatuan yang hakiki dapat diraih hanya dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan pemhahaman salafusalih. Maka, tidak ada jalan lain menuju persatuan tersebut, kecuali jika kaum muslimin menempuh metode salafi (mengikuti salaf) dalam beragama, bukan metode hizbi (kekelompokan).

Apa itu Hizbi?

Ditinjau dari segi bahasa, makna hizb adalah kelompok atau golongan. Bentuk jamak kata hizb adalah al-ahzaab (kelompok-kelompok). Dulu, di masa Nabi, istilah al-ahzaab diperuntukkan bagi kumpulan orang yang bersekutu memerangi Nabi.

Di dalam Al-Qur’an lafaz hizb memiliki beberapa sudut pandang, yaitu:

  1. Beberapa golongan yang berada dalam perbedaan pandangan, syariat, dan agama yang masing-masing merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Lihat: Surat Al-Mukminun: 53, dan Surat Ar-Ruum: 33) [17]
  2. Golongan/Tentara syaithan. (Lihat: Surat Al-Mujaadilah: 19) [18]
  3. Tentara Allah. (Lihat: Surat Al-Maaidah: 56) [19]
  4. Golongan yang menang. (ibid)  [20]
  5. Golongan yang beruntung. (Lihat: Surat Al-Mujaadilah: 22) [21]

Al-Ustadz Yazid bin Abdil Qadir Jawas hafizhahullah mengatakan,

“Maka, bukanlah sesuatu yang tersembunyi bagi seseorang yang berakal bahwa setiap hizb memiliki prinsip-prinsip, pemikiran, sandaran yang sifatnya intern, dan teori-teori yang menjadi patokan sebagai undang-undang bagi hizb tersebut, meskipun sebagian mereka tidak menyebutnya sebagai undang-undang.”[22]

  • Sudah tentu, setiap hizb memiliki asas/undang-undang yang menjadi dasar pijakan jalannya hizb. Hizb memang dibangun di atas asas/undang-undang. Maka, sesungguhnya ada dua macam hizb, yaitu hizb Allah (golongan Allah) dan hizb syaithan (golongan setan). Hizb Allah akan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai asas dan pegangan hidup, dan tidak menjadikan tokoh/ustadz/kyai/ syaikh tertentu sebagai tolak ukur kebenaran. Hizb Allah juga menolak ideologi selain Islam (seperti marxisme, sosialisme, dan ideologi lainnya) sebagai asas. Inilah yang membedakan hizb Allah dengan hizb syaithan. Hizb syaithan, tidak mau menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai tolak ukur kebenaran. Termasuk dalam kategori ini adalah setiap kelompok, organisasi, yayasan, dan gerakan yang membawa seruan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi hanya menjadikan seruan itu sekadar slogan atau formalitas semata, yang hanya akan mengelabui kaum muslimin. Maka, belumlah seseorang itu dikatakan sebagai hizb Allah meskipun lisannya mengaku sebagai hizb Allah, sampai ia merealisasikan ucapannya tersebut dalam amal perbuatan.

Jadilah Salafi, Jangan Jadi Hizbi !

  • Orang yang memasukkan hizb Allah ke dalam hizb (kelompok, pergerakan, jama’ah-jama’ah) yang lain, dia telah merobek-robek hizb Allah, memecah belah kalimat Allah. Seorang muslim harus meninggalkan dan menanggalkan semua bentuk hizbiyyah yang sempit dan terkutuk yang telah melemahkan hizb Allah, dan tidak boleh toleran kepada semua kelompok/golongan/jama’ah supaya agama Islam ini seluruhnya milik Allah karena persatuan hanya bisa terwujud jika kaum muslimin bersatu di atas prinsip yang satu, sebagaimana dulu para salaf (pendahulu) kita dari kalangan shahabat nabi bersatu di atas sunnah. Inilah yang dinamakan prinsip salafi (pengikut salaf), bukan hizbi (pengikut fanatik kelompok tertentu). Maka, jika kaum muslimin di masa kita bersatu sebagaimana bersatunya para salaf, niscaya mereka akan mendapat rahmat Allah, kekuatan, kebaikan, dan kekuatan. Sebaliknya, jika kita berselisih, yang terjadi hanyalah kelemahan, kekalahan, dan kehancuran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya

“Taatilah Allah dan rasulNya. Janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang hilag kesabaran. Bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

(Q.S. Al-Anfaal: 46)

Awas Baghyu! Sumber Penyakit Perpecahan Yahudi Nasrani yang Menulari Ahli Tauhid

Dalam penjelasan sebelumnya, telah dikemukakan bahwa kita dilarang mengikuti model persatuan ala yahudi nasrani karena mereka pada hakikatnya adalah kaum yang berpecah belah. Salah satu sumber mereka saling berpecah belah adalah penyakit baghyu yang menjangkiti mereka. Hal ini dapat diketahui dari firman Allah ta’ala, yang artinya:

“Dan mereka (ahli kitab) tidaklah berpecah belah, melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka, disebabkan al-baghyu di antara mereka.”

(Q.S. Asy-Syuraa`: 14)

Apa itu Al-Baghyu?

Berikut ini, dipaparkan beberapa penjelasan para ulama mengenai pengertian al-baghyu.[23]

1) Ibnu Manzhur

Dalam kitab Lisaanul ‘Arab (XIV/75), Ibnu Manzhur rahimahullah menjelaskan bahwa

والبَغْيُ أَصله الحسد ثم سمي الظلم بَغْياً لأَن الحاسد يظلم المحسود جُهْدَه إراغَةَ زوالِ نعمةِ الله عليه عنه

al-Baghyu asalnya adalah dari hasad (kedengkian). Selanjutnya, kezhaliman dinamakan dengan al-baghyu karena orang yang hasad menzhalimi orang yang sangat ia dengki. Sebab ia menginginkan hilangnya kenikmatan yang telah Allah berikan kepada pihak yang didengkinya tersebut.

2) Asy-Syaukani

Dalam kitab Fathul Qodiir (III/269), Asy-Syaukani rahimahullah berkata,

أما { البغي } فقيل هو الكبر وقيل الظلم وقيل الحقد وقيل التعدي وحقيقته تجاوز الحد فيشمل هذه المذكورة ويندرج بجميع أقسامه تحت المنكر وإنما خص بالذكر اهتماما به لشدة ضرره ووبال عاقبته وهو من الذنوب التي ترجع على فاعلها لقوله سبحانه : { إنما بغيكم على أنفسكم }

“Makna Al-baghyu adalah kesombongan, juga disebut sebagai kezhaliman, kedengkian, atau pelanggaran. Hakikat al-baghyu adalah sikap melampaui batas. Oleh karena itu, al-baghyu mencakup perkara-perkara yang disebutkan di atas. Seluruh jenis al-baghyu termasuk di bawah kalimat kemungkaran, namun al-baghyu disebutkan secara khusus untuk diperhatikan karena besarnya bahaya dan akibatnya kepada pelakunya. Al-baghyu termasuk dosa-dosa yang kembali kepada pelakunya, sebagaimana firman Allah (dalam Q.S Yunus: 23-pen)

إنما بغيكم على أنفسكم

Sesungguhnya (bencana) kezhalimanmu akan menimpa dirimu sendiri

Dari kedua penjelasan ulama di atas, dapat diambil pokok-pokok hal dalam al-baghyu adalah:

  1. Hasad (kedengkian)
  2. Kezhaliman
  3. Kesombongan
  4. Pelanggaran
  5. Sikap melampaui batas

Sifat-sifat di atas harus kita buang jauh-jauh jika kita menginginkan persatuan. Apalagi, jika ilmu, berupa Al-Qur’an dan Al-Hadits, telah sampai kepada kita sehingga kita mengetahui penyakit-penyakit penyebab perpecahan dan mampu mengtasinya. Janganlah ilmu yang telah kita baca dan kita peroleh, kita buang mentah-mentah atau kita anggap remeh. Perhatikan kembali ayat Asy-Asyuraa`: 14 di atas! Dalam ayat tersebut, Allah mengabarkan bahwa perpecahan yahudi nasrani terjadi setelah datangnya ilmu kepada mereka. Namun, mereka berpaling dari ilmu tersebut karena kesombongan mereka.

Pembaca mulia, mari kita renungkan! Sekali lagi, renungkanlah ini! Barangkali kita, sesama ikhwah yang mempelajari tauhid dan sunnah, tidak bisa bersatu, bahkan saling mencerca, menjatuhkan kehormatan satu sama lain, saling mendiamkan, dan terus berpecah belah adalah karena masih bersemayamnya penyakit al-baghyu dalam diri kita.

Sudahkah kita instropeksi diri kita sendiri? Mari kita tanya diri kita, “Apakah kita sudah tidak merasa hasad bila melihat saudara kita memiliki keunggulan yang lebih dari kita?” Atau, masihkan kita merasa lebih hebat, lebih berjasa, dan lebih pandai daripada saudara kita yang lain? Masihkah kita menganggap teman ngaji kita itu lebih bodoh dari kita? Masihkah rasa angkuh, sombong, dan dengki bersarang dalam dada-dada kita? Camkanlah wahai pembaca mulia (demikian pula wahai diriku)! Persatuan kaum muslimin tidak akan terwujud jika penyakit-penyakit kotor di atas masih membelenggu kita.

Perhatikanlah keadaan para shahabat nabi yang mulia, beserta kehidupan para salaf yang harum! Mereka tidak saling berpecah belah, tidak saling menjatuhkan kehoramatan satu sama lain, dan tidak saling mencerca. Namun, mereka saling mencintai sehingga hati mereka bersatu. Memang, kalau kita pelajari sejarah hidup mereka, niscaya kita dapati mereka berselisih dalam beberapa masalah. Namun, lihatlah bahwa apa yang mereka perselisihkan adalah masalah ijtihadiyyah, yaitu perselisihan yang muncul tetapi masih dalam koridor dalil. Mereka tidak seperti kebanyakan di antara kita yang berselisih bukan karena masalah ijtihadiyyah, tetapi karena dengki, angkuh, dan sombong.

و صلى الله على النبي عليه الصلاة و السلام و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة

Yogyakarta

Rabu, 16 Sya’ban 1431 / 28 Juli 2010, 23:19

Abu Muhammad Al-‘Ashri

– عفا الله عنه –

al-ashree.com

Catatan Kaki:


[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, (I/514) Tafsir At-Thabari (III/378), (3) Tafsir Al-Qurthubi (IV/155), Tafsir Jalalain (I/78). Penomoran jilid dan halaman berdasarkan kitab cetakan yang terdapat dalam software Al-Maktabah Asy-Syamilah.[2] At-Thabari dalam kitab tafsirnya berkata,

“حدثنا ابن حميد قال حدثنا سلمة قال قال ابن إسحق : كانت الحرب بين الأوس والخزرج عشرين ومئة سنة حتى قام الإسلام

/Ibnu Humaid memberi kabar kepada kami, beliau berkata, “Salamah berkata, “Ibnu Ishaq berkata,” Dulu, peperangan antara suku Aus dengan suku Khazraj berlangsung selama 120 tahun, hingga datangnya Islam.”””/

[3] Lihat Tafsir Ibnu Katsir. Berikut ini teks aslinya:

وقد ذكر محمد بن إسحاق بن يسار وغيره : أن هذه الاية نزلت في شأن الأوس والخزرج وذلك أن رجلا من اليهود مر بملأ من الأوس والخزرج فساءه ما هم عليه من الاتفاق والألفة فبعث رجلا معه وأمره أن يجلس بينهم ويذكرهم ما كان من حروبهم يوم بعاث وتلك الحروب ففعل فلم يزل ذلك دأبه حتى حميت نفوس القوم وغضب بعضهم على بعض وتثاوروا ونادوا بشعارهم وطلبوا أسلحتهم وتوعدوا إلى الحرة فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فأتاهم فجعل يسكنهم ويقول [ أبدعوى الجاهلية وأنا بين أظهركم ؟ وتلا عليهم هذه الاية فندموا على ما كان منهم واصطلحوا وتعانقوا وألقوا السلاح رضي الله عنهم ]

[4] Nama Abu Sa’id Al-Khudri inilah yang penulis dapatkan di Tafsir At-Thabari. Namun, nama shahabat Nabi yang meriwayatkan hadits dengan lafadz di atas, sebatas yang penulis ketahui dari kitab Sunan Tirmidzi adalah Zaid bin Arqam, sebagaimana yang tercantum dalam footnote (5).

[5] Sunan Tirmidzi, 3788, dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 2980)

Catatan: Dalam Sunan Tirmidzi, shahabat yang meriwayatkan hadits dengan lafadz di atas adalah Zaid bin Arqam.

[6] Periksa: جامع البيان عن تأويل آي القرآن /Jami’ Al-bayan ‘an Ta`wilil Ay Al-Qur’an. محمد بن جرير بن يزيد بن خالد الطبري أبو جعفر /Muhammad ibn Jarir ib Yazid ibn Khalid At-Thabari Abu Ja’far/. Via software المكتبة الشاملة /Al-Maktabah Asy-Syamilah/, jilid III, halaman 378.

[7] Ibid

[8] Lihat: تفسير الجلالين /Tafsir Al-Jalalain/. جلال الدين محمد بن أحمد المحلي /Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Al-Mahalli/ dan وجلال الدين عبدالرحمن بن أبي بكر السيوطي /Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abi Bakr As-Suyuthi/. Cetakan I (tanpa tahun). القاهرة /Al-Qahirah/ (Kairo): دار الحديث /Dar Al-Hadits/, halaman 78.

[9] Paragraf ini, disarikan dari buku Mulia dengan Manhaj Salaf, Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, halaman 181-182.

[10] Periksa:  سنن البيهقي الكبرى/Sunan Baihaqi Kubra/.  أحمد بن الحسين بن علي بن موسى أبو بكر البيهقي /Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali ibn Musa Abu Bakr Al-Baihaqi/, dengan tahqiq  محمد عبد القادر عطا /Muhammad Abdul Qadir Atha. 1414 H – 1994 M. مكة المكرمة /Makkah Al-Mukarramah/:  مكتبة دار الباز/ Makatabah Dar Al-Baz/, jilid X, halaman 90, hadits nomor 19.965.

[11] Lihat سنن أبي داود /Sunan Abi Dawud/. سليمان بن الأشعث أبو داود السجستاني الأزدي /Sulaiman ibn Al-Asy’ats Abu Dawud As-Sijistani Al-Azdi/. Tanpa tahun.دار الفكر /Dar Al-Fikr/, jilid II, halaman 610, hadits nomor 4607.

[12] Periksa: مجموع الفتاوى /Majmu’ Fatawa/. أحمد بن عبد الحليم بن تيمية الحراني أبو العباس /Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah Al-Haraani Abu Al-Abbas/. Tanpa tahun, via sofware المكتبة الشاملة /Al-Maktabah Asy-Syamilah/. juz XX, halaman 109. Berikut ini teks asli perkataan Ibnu Taimiyyah,

” فهذا نص فى أنهم تركوا بعض ما أمروا به فكان تركه سببا لوقوع العداوة والبغضاء المحرمين”

[13] مجموع الفتاوى /Majmu’ Fatawa/. أحمد بن عبد الحليم بن تيمية الحراني أبو العباس /Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah Al-Haraani Abu Al-Abbas/. Tanpa tahun, via sofware المكتبة الشاملة /Al-Maktabah Asy-Syamilah/, jilid II, halaman 132. Berikut ini teks pernyataan beliau:

ويجب عقوبة كل من انتسب اليهم أو ذب عنهم أو أثنى عليهم أوعظم كتبهم أو عرف بمساعدتهم ومعاونتهم أو كره الكلام فيهم أو أخذ يعتذر لهم بأن هذا الكلام لا يدرى ما هو أو من قال انه صنف هذا الكتاب وأمثال هذه المعاذير التى لايقولها الا جاهل أو منافق بل تجب عقوبة كل من عرف حالهم ولم يعاون على القيام عليهم فإن القيام على هؤلاء من أعظم الواجبات لأنهم أفسدوا العقول والأديان على خلق من المشايخ والعلماء والملوك والأمراء وهم يسعون فى الأرض فسادا ويصدون عن سبيل الله

[14] Ibid, jilid XXVIII, halaman 232. Perhatikan teksnya sebagai berikut.

اذ تطهير سبيل الله ودينه ومنهاجه وشرعته ودفع بغى هؤلاء وعدوانهم على ذلك واجب على الكفاية باتفاق المسلمين ولولا من يقيمه الله لدفع ضرر هؤلاء لفسد الدين وكان فساده أعظم من فساد استيلاء العدو من أهل الحرب فان هؤلاء اذا استولوا لم يفسدوا القلوب وما فيها من الدين الا تبعا وأما أولئك فهم يفسدون القلوب ابتداء

وقد قال النبى إن الله لا ينظر الى صوركم وأموالكم وانما ينظر الى قلوبكم وأعمالكم

Catatan: Adapun hadits yang dibawakan Ibnu Taimiyyah di atas, dapat diperiksa di صحيح مسلم /Shahih Muslim/. مسلم بن الحجاج أبو الحسين القشيري النيسابوري /Muslim ibn Al-Hajjaj Abu Al-Husain Al-Qusyairi An-Naisaburi/, dengan tahqiq: محمد فؤاد عبد الباقي /Muhammad Fuad Abdul Baqi/. Tanpa tahun. بيروت /Beirut/:  دار إحياء التراث العربي /Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi/, jilid IV, halaman 1986, hadits nomor 34.

[15] منهاج السنة النبوية /Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah/. أحمد بن عبد الحليم بن تيمية الحراني أبو العباس /Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah Al-Haraani Abu Al-Abbas/, dengan tahqiq د. محمد رشاد سالم /Dr. Muhammad Rosyad Salim/. 1406 (cetakan I): مؤسسة قرطبة /Mu`assasah Qurthubah/, jilid V, halaman 253.

[16] Periksa: صحيح مسلم /Shahih Muslim/. مسلم بن الحجاج أبو الحسين القشيري النيسابوري /Muslim ibn Al-Hajjaj Abu Al-Husain Al-Qusyairi An-Naisaburi/, dengan tahqiq: محمد فؤاد عبد الباقي /Muhammad Fuad Abdul Baqi/. Tanpa tahun. بيروت /Beirut/:  دار إحياء التراث العربي /Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi/, jilid I, halaman 381, hadits nomor 33. Berikut ini teks haditsnya:

وكانت لي جارية ترعى غنما لي قبل أحد والجوانية فاطلعت ذات يوم فإذا الذيب [ الذئب ؟ ؟ ] قد ذهب بشاة من غنمها وأنا رجل من بني آدم آسف كما يأسفون لكني صككتها صكة فأتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فعظم ذلك علي قلت يا رسول الله أفلا أعتقها ؟ قال ائتني بها فأتيته بها فقال لها أين الله ؟ قالت في السماء قال من أنا ؟ قالت أنت رسول الله قال أعتقها فإنها مؤمنة

[17] كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

[18] ولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

[19] فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

[20] ibid

[21] أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

[22] Syarah Aqidah Ahlus-Sunnah wal Jama’ah. Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas. 2007. Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, halaman. 606-606.

[23] Pembahasan mengenai baghyu ini disarikan dari Buku Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan karya Ustadz Al-Fadhil Abu Abdil Muhsin Firanda, dengan sedikit tambahan dari penulis.

http://abangdani.wordpress.com/2010/07/29/mungkinkah-umat-islam-bersatu/#more-3260

Kategori:Islam, Manhaj Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: